Arti Lambang Padi dan Kapas Pada Pancasila

Padi dan kapas – Berbicara mengenai Padi dan kapas ini, siapa sih yang tidak ingat dengan lambang negara Indonesia yang disebut sebagai pancasila? Tentu selain memiliki lima dasar yang perlu kita ketahui makna dan simbol-simbolnya, di antara lima dasar negara yang terkandung di dalam pancasila terdapat icon padi dan kapas. Betul? Yups! Padi dan kapas dalam pancasila ini masuk ke dalam sila kelima yang berarti Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

1) Arti Simbol Padi dan Kapas

Jika selama ini kita mengenal bahwa kapas adalah cikal bakal pembuatan bahan yang menjadikannya benang, padi pun bahan pokok konsumsi warga Indonesia yang akan menjadi nasi. So, dalam pancasila arti padi dan kapas itu sendiri bermakna bahwa padi yakni makanan pokok atau utama warga Indonesia, sedangkan kapas adalah sandang pokok yang berupa pakaian bagi rakyat Indonesia.

2) Penerapan Sila Sesuai dengan Sila Kelima

Pancasila sebagai dasar negara menjadi landasan pokok bagi warga negara Indonesia yang mencintai tanah airnya. Nah! Buat kamu yang ingin belajr tentang tata cara penerapan perilaku yabg sesuai dengan sila kelima ini, berikut contohnya:

  • Menghargai hasil karya atau usaha orang lain
  • Berlaku saling menolong kepada orang lain mengingat bahwa kodrat manusia hidup saling membutuhkan
  • Menghormati sesama
  • Berperilaku sopan terhadap sesama
  • Berlaku adil bagi sesama manusia

3) Sumber Padi dan Kapas

Jika kita sudah tahu tentang makna yang berada di dalam simbol Padi dan Kapas pada lambang dasar negara Indonesia, tentu juga tidak asing bukan bahwa sumber padi dan kapas ini dari dua pohon yang berbeda? Jika padi biasa kita jumpai pada pohon padi yang ditanam di sawah sebagai bahan beras kelak, kita pun dapat mengerti bahwa kapas biasa dijumpai pada pohon besar yang kerap disebut pohon randu.

Nah! Itulah sedikit informasi mengenai Padi dan Kapas pada Sila kelima. Selain mengetahui sumbernya, tentu kamu juga memahami manfaat dan juga cara berperilaku sesuai dengan sila kelima, bukan?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *